Minggu, 10 Februari 2008

Bapak Bangsa Di Hati Kepala Negara

Setelah Pak Harto Tiada
Indonesia berduka. Presiden RI yang kedua, Jenderal Besar (Purn) TNI Soeharto telah berpulang ke Rahmatullah, Minggu 27 Januari 2008. Sebagai tokoh besar, Pak Harto meninggalkan banyak kesan, banyak kenangan, dan mungkin banyak kontroversi. Ibarat drama, ujung perjalanan hidup dari Bapak Pembangunan Indonesia ini penuh dengan “kisah besar”. Begitu pula yang dirasakan bangsa Indonesia tatkala puluhan tahun silam Bung Karno, Bapak Proklamator Indonesia berpulang. Suka tidak suka, senang tidak senang, Bung Karno dan Pak Harto adalah dua pemimpin besar Indonesia yang telah memberi “kenangan besar” kepada bangsa yang sama-sama mereka cintai.
Kepergian Pak Harto semestinya kita jadikan sebagai “gerbang batin” yang baru untuk melangkah menjadi bangsa yang tidak lagi terpecah oleh dendam politik-ideologis yang tidak mungkin terjembatani. Bangsa Indonesia kini memerlukan “rekonsiliasi nasional” dengan menimba hikmah dari kepemimpinan Bung Karno dan Pak Harto. Jangan lagi ada dendam yang diwarisi. Para pemimpin dan elite bangsa ini kiranya mampu melakukan cutting off, pemutusan terhadap realitas sejarah masa lalu yang sarat oleh dendam politik.
Mesti ada kemampuan dan keberanian kolektif serta sikap jiwa besar untuk menutup lembaran-lembaran kelam dari era dua rezim, Orde lama dan Orde Baru yang terwakilkan oleh sosok dan gaya kepemimpinan Bung Karno dan Pak Harto. Mari kita kenang semua hal baik yang ditinggalkan oleh Bung Karno dan Pak Harto, agar kita mampu berjalan dengan kepala tegak di pentas kehidupan global, demi menjaga harga diri kita sebagai bangsa yang bermartabat. Hukum memang mesti ditegakkan di negeri ini. Namun demikian, penegakan hukum tidak boleh terpenjara oleh dendam. Apalah guna memelihara dendam politik, padahal dendam hanya akan beranak pinak pada dendam yang baru?
Untuk itulah, generasi baru pasca kepemimpinan Bung Karno dan Pak Harto mesti mampu merebut momentum sejarah untuk membuat sejarah baru bagi negeri ini, yakni “menguatkan bangsa dan meneruskan pembangunan bangsa dengan modal persatuan nasional yang sejati” Ini hanya dapat dimulai dengan spirit dan nawaitu untuk melakoni rekonsiliasi nasional. Sehubungan dengan ini, bangsa Indonesia memerlukan leadership guna memulai langkah-langkah konkrit rekonsiliasi nasional.
Presiden SBY telah memberi bukti konkrit bagaimana seharusnya negara memperlakukan para mantan presiden. Bentuk penghomatan pemerintah kepada Pak Harto di saat kematiannya, sudah tepat. Begitulah semestinya negara memperlakukan pemimpin bangsa yang berjasa besar kepada negara dan bangsa. Ini modal awal untuk keluar dari lingkaran dendam politik-ideologis yang berkepanjangan. Indonesia berduka dengan kepergian Pak Harto, seperti yang dirasakan dahulu saat bangsa ini kehilangan Bung Karno. Mari kita teruskan hal-hal baik kedua mendiang, Presiden RI pertama dan Presiden RI kedua.
Selepas kepergian Pak Harto, baiklah bangsa ini menjunjung hal-hal baik dan melupakan hal-hal buruk dari kepemimpinan Pak Harto. Mikul dhuwur mendhem jero, begitu filosofi Jawa yang dipegang teguh oleh Pak Harto sampai akhir hayatnya. Terima kasih Bung Karno yang telah menghantar bangsa ini masuk ke gerbang kemerdekaan. Terima kasih Pak Harto yang telah menuntun bangsa ini menjalankan pembangunan nasional. Teruslah berkarya untuk Bangsa dan Negara

Tidak ada komentar: